Pendahuluan
Subulussalam adalah kota otonom yang berada di Provinsi Aceh, Indonesia. Kota ini dikenal sebagai “Gerbang Barat Selatan Aceh” karena letaknya yang strategis di perbatasan Aceh dan Sumatera Utara. Meski usianya sebagai kota relatif muda—dimekarkan dari Kabupaten Aceh Singkil pada tahun 2007—Subulussalam telah berkembang pesat sebagai pusat perekonomian, perdagangan, dan budaya di wilayah ini.
Selain keindahan alamnya yang masih asri, Subulussalam juga menyimpan kekayaan kuliner tradisional yang sarat akan cita rasa dan nilai budaya. Makanan khasnya tidak hanya menjadi pengisi perut, tetapi juga bagian dari identitas masyarakat yang memegang teguh tradisi.
Sejarah Singkat Kota Subulussalam
Nama “Subulussalam” berasal dari bahasa Arab yang berarti “Jalan Keselamatan” atau “Jalan Damai”. Sejak dahulu, wilayah ini menjadi jalur perdagangan penting yang menghubungkan pesisir barat Aceh dengan pedalaman Sumatera. Letaknya yang berada di kawasan perbukitan dan dekat dengan sungai menjadikan daerah ini subur, cocok untuk pertanian dan perkebunan.
Mayoritas penduduk Subulussalam adalah suku Aneuk Jamee, suku Aceh, dan suku-suku pendatang seperti Minangkabau, Batak, serta Jawa. Keberagaman ini membentuk mozaik budaya yang tercermin dalam seni, adat, hingga kuliner sehari-hari.
Kekayaan Alam yang Menunjang Kuliner
Subulussalam memiliki tanah yang subur dengan hasil perkebunan seperti kelapa sawit, kopi, kakao, dan rempah-rempah. Sungai-sungai yang mengalir di wilayah ini juga menjadi sumber ikan air tawar yang melimpah, sementara hutan dan perbukitan menyediakan bahan pangan alami seperti sayuran, umbi, dan hasil hutan lainnya. Semua sumber daya ini berkontribusi pada beragamnya makanan khas yang ada.
Makanan Khas Kota Subulussalam
1. Gulai Ikan Keumamah

Ikan keumamah gulai menjadi salah satu masakan tradisional HONDA138 yang cukup terkenal di Subulussalam. Keumamah adalah ikan tuna yang diawetkan dengan cara direbus, dikeringkan, lalu dimasak kembali menggunakan santan, cabai, kunyit, lengkuas, dan rempah khas Aceh. Hidangan ini memiliki cita rasa gurih bercampur pedas, dengan aroma rempah yang begitu tajam dan menggugah selera. Makanan ini tahan lama dan sering dibawa sebagai bekal perjalanan jauh.
2. Ayam Tangkap

Ayam digoreng bersama irisan daun pandan, daun kari, dan cabai hijau sehingga menghasilkan aroma harum dan rasa yang khas. Potongan ayamnya biasanya kecil-kecil sehingga mudah disantap dengan tangan. Hidangan ini sering menjadi menu utama saat berkumpul bersama keluarga atau menjamu tamu.
3. Sie Reuboh

Sie reuboh adalah olahan daging sapi yang direbus dengan cuka aren dan bumbu rempah seperti lengkuas, jahe, bawang, dan cabai. Rasa asam gurihnya segar di lidah, dan masakan ini bisa bertahan lama tanpa perlu disimpan di lemari pendingin. Di Subulussalam, sie reuboh umumnya disajikan saat perayaan adat atau momen-momen keagamaan penting.
4. Kuah Beulangong

Kuah beulangong adalah sejenis gulai daging sapi atau kambing yang dimasak dalam kuali besar (beulangong). Kuahnya menjadi kental karena dimasak bersama santan, kelapa sangrai, dan racikan bumbu khas Aceh. Hidangan ini identik dengan acara kenduri, pesta pernikahan, dan peringatan hari besar Islam. Hidangan ini memiliki rasa gurih berpadu pedas ringan, dengan aroma rempah yang begitu kaya.
5. Gulai Pliek U

Pliek u memberikan aroma khas dan rasa gurih pada kuah sayur yang berisi nangka muda, daun melinjo, kacang panjang, dan kadang ditambah ikan atau udang. Di Subulussalam, gulai ini sering disantap sebagai menu harian.
6. Kue Bhoi

Terbuat dari adonan telur, gula, dan tepung, kue ini dipanggang hingga bertekstur renyah di luar dan lembut di dalam. Kue bhoi menjadi oleh-oleh favorit dari Subulussalam, khususnya untuk acara adat atau syukuran.
7. Timphan

Timphan adalah kue tradisional yang terbuat dari tepung ketan yang diisi dengan kelapa parut bercampur gula merah atau srikaya, lalu dibungkus daun pisang dan dikukus. Rasanya manis lembut, dengan aroma khas daun pisang. Timphan adalah kue wajib saat perayaan Idul Fitri di Subulussalam.
Kopi Subulussalam
Selain makanan, Subulussalam juga terkenal dengan kopi khasnya. Tanah subur dan iklim yang cocok membuat biji kopi di daerah ini memiliki cita rasa yang unik—aroma kuat dengan rasa sedikit manis dan pahit seimbang. Kopi Subulussalam biasa diseduh secara tradisional dan menjadi teman setia di setiap obrolan santai.
Makna Kuliner dalam Kehidupan Masyarakat
Bagi masyarakat Subulussalam, kuliner bukan hanya sekadar santapan. Banyak hidangan yang memiliki nilai simbolis. Timphan mencerminkan rasa syukur dan kebahagiaan, sementara sie reuboh menjadi simbol kesederhanaan serta ketahanan hidup.
Pengaruh Budaya terhadap Kuliner
Keberagaman etnis di Subulussalam membuat kulinernya kaya akan pengaruh:
- Di Aceh, masakan khas biasanya mengandalkan rempah yang kuat, santan, serta teknik memasak gulai yang khas.
- Minangkabau → rasa pedas dan bumbu melimpah.
- Batak → pengolahan daging dengan cita rasa khas dan teknik pengawetan.
Hasilnya, kuliner Subulussalam memiliki rasa unik yang berbeda dari wilayah lain di Aceh.
Potensi Wisata Kuliner
Dengan kekayaan kuliner dan lokasinya yang strategis, Subulussalam memiliki potensi besar sebagai destinasi wisata kuliner. Rumah makan lokal, warung kopi, dan pasar tradisional bisa menjadi daya tarik bagi wisatawan. Menikmati kopi Subulussalam sambil mencicipi timphan atau kue bhoi di tengah suasana alam yang sejuk tentu menjadi pengalaman yang tak terlupakan.
Kesimpulan
Kota Subulussalam adalah perpaduan antara keindahan alam, keragaman budaya, dan kekayaan kuliner. Dari gulai ikan keumamah hingga timphan yang manis legit, setiap hidangan menyimpan cerita tentang tradisi, kehidupan, dan kehangatan masyarakatnya.
Bagi siapa pun yang berkunjung ke Subulussalam, menjelajahi kuliner lokal adalah cara terbaik untuk memahami jati diri kota ini. Setiap suapan membawa kita pada perjalanan rasa yang memadukan sejarah, alam, dan budaya khas Tanah Serambi Mekkah bagian selatan.